Republika : Senin, 03
April 2006
DKI akan Coba Dekati World Bank
JAKARTA-- DKI Jakarta mencoba mengajak World Bank untuk mendanai
proyek subway. Wakil Gubernur (wagub) DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengaku
akan melakukan pembicaraan dengan World Bank bulan ini. Namun dalam pembicaraan
awal dengan pejabat bank tersebut, Fauzi tidak yakin akan terpenuhi.
''Setahu saya, World Bank tidak punya pola pembiayaan sangat
panjang seperti (yang dibutuhkan subway) ini,'' kata dia akhir pekan
lalu.Menurut wagub, subway adalah proyek yang berbeda dengan
infrastruktur lainnya. Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak mengharap
investasi kembali. Karena itulah, kondisinya sulit untuk memperoleh kucuran
dana. Pasalnya tidak mungkin diselesaikan dengan pinjaman konvensional jangka
menengah atau pendek.
Mengenai DKI yang ngotot mengerjakan proyek ini, Fauzi
mengatakan, karena Jakarta membutuhkan sarana transportasi subway.
Angkutan ini menjadi sarana terbaik untuk mengentaskan kemacetan. ''Oleh karena
itu, kita mencari financing yang sangat lunak yang tidak terlalu
membebani pemerintah dalam jangka waktu yang panjang,'' ujar wagub yang akrab
disapa Foke.
Foke menambahkan, sebenarnya ada dua rencana dalam pembiayaan
proyek ini. Pertama pendanaan melaui Indonesian Japan and European Consortium
(IJEC). Namun melalui konsorsium ini, tidak terdapat pinjaman lunak yang
menurut perhitungan bisa diambil untuk pembangunan proyek.
Rencana kedua adalah pendanaan oleh Jepang melalui Japan Bank for
International Cooperation (JBIC). Tapi lagi-lagi gagal dengan adanya
ketidaksepakatan antara pemerintah Jepang dengan Indonesia. Menurut Foke,
terjadi salah paham di antara dua negara.
Permintaan Jepang menggunakan 30 persen komponen yang dimilikinya
dalam proyek ini, dinilai wagub sebagai hal yang wajar. Jika mencapai 50 persen
atau lebih, barulah tidak wajar. Permintaan penggunaan komponen pemberi dana
memang sudah menjadi bagian dari kesepakatan kerjasama dalam bidang apapun.
Pendekatan dengan Jepang, lanjutnya, akan dikaji kembali. Bukan
hal mustahil kembali kepada sumber dana negeri Sakura ini. Apalagi jika
kesempatan itu yang paling baik dibandingkan alternatif yang ada.
Suwardi, sekretris eksekutif Transportation Develompent Center
(TraDC) menuturkan, sebelum menuju World Bank, sebaiknya pemerintah
menawarkannya kepada konsorsium perusahaan lokal. Sedangkan konsorsium Badan
usaha Milik Negara (BUMN), ia menyangsikan pengelolaannya. Pasalnya pelayanan
transportsi yang dikelola BUMN cenderung memiliki nilai yang buruk.
Sedangkan tentang pengkajian ulang proyek memang harus ada.
Pengkajian selama 10 tahun tidak akan sesuai dengan kondisi terkini di Jakarta.
''Untuk kelayakan investasi mungkin masih sama, tapi tidak untuk operasional.
Kondisi masyarakat, social cost, dan lingkungan sudah berubah,''
katanya, Ahad (2/4). Karena itu, siapa pun yang akan menangani proyek ini kelak
harus melakukan pengkajian secara komprehensif.
( c34 )