Telkom Untung Rp 4,25
Trilyun
Jakarta,
Kompas - PT Telekomunikasi Indonesia (PT Telkom) berhasil meraih laba tahun
2001 sebesar Rp 4,25 trilyun, naik 41 persen dibanding tahun 2000 yang Rp 3
trilyun. Pendapatan operasi perusahaan publik itu sendiri sebesar Rp 16,13
trilyun, naik 33 persen dari Rp 12,11 trilyun tahun 2000.
Dari
sejumlah pendapatan operasi itu, setoran dari PT Telkomsel-yang 77,72 persen
sahamnya dimiliki PT Telkom-, menunjukkan angka yang melebihi besarnya
keuntungan Telkom, yakni Rp 5 trilyun.
Sementara
itu, pendapatan PT Telkom dari pengoperasian jaringan telekomunikasinya,
telepon tetap (fixed phone), mencapai Rp 6,4 trilyun. Setoran dari KSO
Rp 2,2 trilyun, dan dari interkoneksi Rp 1,4 trilyun.
"Pendapatan
dari seluler (PT Telkomsel) memang besar, tetapi biaya termasuk gaji
karyawannya juga merupakan pengeluaran PT Telkom," ujar Direktur Operasi
dan Pemasaran PT Telkom, Komarudin SK, Jumat pekan lalu. Ia menepis anggapan
bahwa andai PT Telkomsel tidak memasukkan setorannya, PT Telkom akan merugi
sekitar Rp 750 milyar.
Beban
PT Telkom tahun lalu juga sangat besar, antara lain dengan adanya transaksi
silang antara perusahaan itu dengan PT Indosat, terutama dalam kewajiban
membayar pajak transaksi. Dana sebesar Rp 1,875 trilyun harus disiapkan untuk
pajak, selain transaksi itu sendiri mengharuskan PT Telkom mengeluarkan uang
sampai Rp 2,4 trilyun.
AWI segera selesai
Beban
PT Telkom akibat batalnya transaksi silang Divre IV Jateng/DIY, juga
memberatkan keuangan perusahaan itu. Batalnya transaksi mengharuskan PT Telkom
membayar 198 juta dollar AS kepada PT Indosat, yang berdasarkan SPA tahun lalu
harus dibayar dalam rupiah dengan kurs Rp 11.400 per dollar AS.
Sumber
Kompas di PT Indosat menyebutkan, PT Telkom baru membayar dua kali, Rp
600 milyar dan Rp 200 milyar, sementara menurut hitungan, kewajiban mereka
mencapai Rp 2,25 trilyun. "Mereka minta agar kursnya jangan sebesar itu,
apalagi dollar kini sudah hampir Rp 9.000," ujarnya.
Sementara
itu, PT Telkom melihat adanya ketidakadilan kalau mereka harus membayar dengan
kurs yang disepakati itu, yang dari gain saja PT Indosat meraih sekitar
Rp 245 milyar. "Kami sedang melakukan negosiasi agar pembayaran tidak
sebesar itu," ujar Komarudin.
Beban
PT Telkom tahun ini juga lebih berat, karena harus membayar kembali (buy out)
aset Mitra KSO (kerja sama operasi). Dua mitra akan diselesaikan tahun ini,
yakni PT Pramindo Ikat Nusantara (PIN) yang mengelola Divisi Regional I Sumatera
dan PT AriaWest International (AWI) yang mengelola Divisi Regional III Jabar
dan Banten.
Dengan
PIN sudah selesai, sehingga kini tinggal teken SPA (sale & purchase
agreement) dan dibawa ke RUPS (rapat umum pemegang saham). Sementara dengan
AWI sudah dicapai MoU (kesepakatan).
Menurut
sumber Kompas di PT Telkom, AWI sudah setuju dengan jumlah yang
dinegosiasikan keduanya, tetapi angkanya belum bisa diumumkan. Pekan ini
pertemuan antara PT Telkom dan AWI akan dilakukan kembali, di Singapura. (hw)